You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan KALIREJO
Kalurahan KALIREJO

Kap. Kokap, Kab. KULON PROGO, Provinsi DI Yogyakarta

Selamat datang di website resmi Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Iistimewa Yogyakarta

SAPARAN: TRADISI BUDAYA DALAM MEMPERINGATI BULAN SAPAR

KKN UII 20 Agustus 2024 Dibaca 10.342 Kali
SAPARAN: TRADISI BUDAYA DALAM MEMPERINGATI BULAN SAPAR

Tradisi Saparan adalah salah satu warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan sosial di kalangan masyarakat Jawa, terutama di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tradisi ini memiliki hubungan erat dengan bulan Sapar dalam kalender Hijriah, yang diyakini sebagai waktu yang penuh dengan energi gaib dan sering dikaitkan dengan upaya untuk menolak bala atau nasib buruk serta memohon keselamatan.

Asal Usul dan Makna Tradisi Saparan

Nama "Saparan" berasal dari kata "Sapar", bulan kedua dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi Jawa, bulan ini dianggap sebagai periode di mana masyarakat perlu melakukan berbagai ritual dan upacara sebagai bentuk permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari marabahaya. Kepercayaan ini berkembang dari keyakinan bahwa bulan Sapar memiliki konotasi negatif atau potensi munculnya kesialan, sehingga perlu diantisipasi dengan ritual-ritual khusus.

Salah satu bentuk paling umum dari tradisi Saparan adalah upacara selamatan. Selamatan ini melibatkan doa bersama, penyajian sesajen, dan pelaksanaan prosesi adat lainnya. Selamatan tersebut dilakukan sebagai ungkapan syukur atas berkah yang telah diterima dan sebagai permohonan agar dijauhkan dari segala bentuk musibah dan penyakit​.

Tradisi Saparan sebagai Sarana Pelestarian Budaya

Selain berfungsi sebagai ritual spiritual, tradisi Saparan juga berperan penting dalam pelestarian budaya lokal. Masyarakat yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan tradisi ini secara langsung mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Melalui kegiatan gotong royong dalam mempersiapkan upacara, mereka diajarkan pentingnya kebersamaan dan kerja sama dalam komunitas​ 

Tradisi ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung bagaimana kearifan lokal masih dipraktikkan di tengah arus modernisasi. Dengan demikian, Saparan tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi sumber daya ekonomi melalui sektor pariwisata.

 

 

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2025 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp3,299,763,106 Rp3,334,765,948
98.95%
Belanja
Rp3,003,772,929 Rp3,226,112,228
93.11%
Pembiayaan
Rp418,706,280 Rp428,066,280
97.81%

APBDes 2025 Pendapatan

Hasil Usaha Desa
Rp167,800 Rp5,067,800
3.31%
Hasil Aset Desa
Rp21,296,720 Rp17,066,720
124.79%
Dana Desa
Rp1,294,187,000 Rp1,294,187,000
100%
Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi
Rp182,995,886 Rp227,049,640
80.6%
Alokasi Dana Desa
Rp836,509,068 Rp836,509,068
100%
Bantuan Keuangan Provinsi
Rp615,000,000 Rp615,000,000
100%
Bantuan Keuangan Kabupaten/kota
Rp316,512,120 Rp316,512,120
100%
Penerimaan Dari Hasil Kerjasama Antar Desa
Rp15,881,400 Rp15,881,400
100%
Koreksi Kesalahan Belanja Tahun-tahun Sebelumnya
Rp4,136,645 Rp0
100%
Bunga Bank
Rp8,276,467 Rp4,492,200
184.24%
Lain-lain Pendapatan Desa Yang Sah
Rp4,800,000 Rp3,000,000
160%

APBDes 2025 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp1,478,366,279 Rp1,612,586,630
91.68%
Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa
Rp1,055,081,842 Rp1,088,836,352
96.9%
Bidang Pembinaan Kemasyarakatan
Rp122,727,550 Rp150,352,490
81.63%
Bidang Pemberdayaan Masyarakat
Rp311,995,258 Rp327,946,478
95.14%
Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Desa
Rp35,602,000 Rp46,390,278
76.74%